Selasa, 11 Desember 2012

MALAM PERJANJIAN

/ang jasman



Petang ini kita berjanji bertemu di sebuah café
suaramu seperti guntur menghantar hujan, mengingatkan aku
seolah esok bumi ini rata menyisakan cinta kita tumbuh
di celah bebatuan dan musim yang ramah.

Rindu kita berkelindan tanpa kita mengerti,
aku mau ketemu kau seperti kamu ingin jumpa aku.

Detik-detik paling emas adalah pertemuan dua kekasih,
aku akan berbagi waktu seperti kamu menyediakan waktu.

Kau pasti akan menungguku bila aku datang terlambat seperti aku
sungguh akan menantimu jika tak tiba pada waktunya.

Damba saling bertalu mengisi penuh ruang-ruang.
Waktu bergulir cepat sebelum rindu terbasuh.

Jangan terkejut di pertemuan paling damba nanti.
Rindu yang kau usung akan kubayar tunai.
Kan kucium tipis bibirmu tapi bukan gincu merah itu.
Kan kuelus lembut kulitmu tapi bukan lotion pelembut.
Kan kuusap ikal rambutmu tapi bukan hair spray dan pewarna.
Kan kupeluk tubuhmu tapi bukan gaun kesayanganmu.

Malam makin menggetarkan bagi dua kekasih.
Kita tak berselimut kepalsuan, katamu.
Kita tak bersarung kedustaan, kataku.

Dengan bugil kemurnian tubuh kita mandi cahaya bulan.
Malam jadi hening sekalian seribu cengkerik, kodok dan
burung hantu melagukan serenada agung.

Lihat, sepasang kekasih bercinta di awan-awan.
Tubuh mereka merupa emas dipelukan rembulan.
Menari di celah bintang gemintang.



12/2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar